Portal Sejarah Bali
Menelusuri Jejak Peradaban Pulau Dewata
Dari zaman prasejarah hingga era kerajaan-kerajaan Hindu yang megah, temukan kisah perjalanan panjang peradaban Bali yang kaya akan budaya, seni, dan spiritualitas.
Mulai JelajahiGaris Waktu Sejarah
Perjalanan panjang peradaban Bali dari zaman purba hingga era modern
Zaman Prasejarah
Manusia purba mulai mendiami Bali. Ditemukan peninggalan berupa kapak batu, nekara perunggu (Moko), dan sarkofagus batu. Budaya megalitikum berkembang dengan kepercayaan animisme dan dinamisme.
Masuknya Pengaruh Hindu
Pedagang dan pendeta dari India membawa agama Hindu dan Buddha. Munculnya prasasti tertua di Bali - Prasasti Blanjong (914 M) oleh Sri Kesari Warmadewa. Akulturasi dengan kepercayaan lokal.
Era Kerajaan Bali Kuno
Berdirinya kerajaan-kerajaan awal seperti Kerajaan Singasari yang memengaruhi Bali. Raja Udayana dan Mahendradatta memerintah, melahirkan Airlangga yang kemudian menjadi raja Jawa Timur.
Era Majapahit & Gelgel
Ekspedisi Gajah Mada menaklukkan Bali (1343). Berdirinya Kerajaan Gelgel oleh Dalem Ketut Ngulesir. Masa keemasan kebudayaan Bali dengan Dang Hyang Nirartha sebagai pendeta agung.
Era Kerajaan-Kerajaan
Perpecahan Gelgel melahirkan 9 kerajaan: Klungkung, Buleleng, Karangasem, Mengwi, Badung, Tabanan, Gianyar, Bangli, dan Jembrana. Masing-masing berkembang dengan budaya unik.
Kerajaan-Kerajaan di Bali
Sembilan kerajaan yang pernah berjaya di Pulau Dewata
Kerajaan Klungkung
Penerus langsung Kerajaan Gelgel dan dianggap sebagai kerajaan tertinggi di Bali.
Kerajaan Buleleng
Kerajaan di Bali utara yang pertama bersentuhan dengan kolonial Belanda.
Kerajaan Karangasem
Kerajaan yang pernah menaklukkan Lombok dan memiliki pengaruh besar di Bali timur.
Kerajaan Badung
Kerajaan yang terkenal dengan Puputan Badung, perlawanan heroik terhadap Belanda.
Kerajaan Tabanan
Kerajaan agraris yang kaya dengan sistem subak dan tradisi gamelan terkenal.
Kerajaan Gianyar
Pusat seni dan budaya Bali, terkenal dengan tari, lukisan, dan ukiran.
Kerajaan Bangli
Kerajaan di dataran tinggi, terkenal dengan Pura Kehen sebagai pura kerajaan.
Kerajaan Mengwi
Pernah menjadi kerajaan terkuat di Bali dengan Pura Taman Ayun yang megah.
Kerajaan Jembrana
Kerajaan di Bali barat yang sempat dikuasai berbagai kerajaan lain.
Bukti-Bukti Sejarah
Peninggalan arkeologis dan dokumen historis yang membuktikan kejayaan peradaban Bali
Prasasti
Dokumen tertulis pada batu atau logam
Prasasti Blanjong
Prasasti tertua di Bali, ditemukan di Sanur. Menyebut kemenangan Sri Kesari Warmadewa. Ditulis dalam aksara Pranagari dan Bali Kuno.
Prasasti Sukawana AI
Menyebut tentang sima (daerah bebas pajak) dan sistem pemerintahan kerajaan kuno Bali.
Prasasti Pura Kehen A
Membuktikan eksistensi Raja Udayana dan permaisuri Mahendradatta (Gunapriyadharmapatni).
Artefak & Peninggalan
Benda-benda bersejarah dari berbagai era
Nekara Pejeng (Bulan Pejeng)
Nekara perunggu terbesar di dunia (diameter 160 cm). Bukti budaya Dong Son dan keahlian metalurgi tinggi. Tersimpan di Pura Penataran Sasih.
Sarkofagus Batu
Peti jenazah batu berbentuk kura-kura ditemukan di berbagai lokasi. Bukti kepercayaan megalitikum dan ritual penguburan kuno.
Candi Gunung Kawi
10 candi batu yang dipahat di tebing. Diduga makam Raja Udayana dan keluarganya, termasuk Anak Wungsu.
Pura Bersejarah
Pura Besakih, Pura Uluwatu, Pura Tanah Lot - bukti arsitektur dan spiritualitas Hindu-Bali.
- • Pura Besakih (Abad 8)
- • Pura Uluwatu (Abad 11)
- • Pura Taman Ayun (1634)
Lontar & Naskah Kuno
Ribuan naskah lontar menyimpan sejarah, sastra, dan pengetahuan kuno Bali.
- • Babad Dalem
- • Usana Bali
- • Kidung Pamancangah
Dokumen Kolonial
Catatan VOC dan Belanda tentang kerajaan-kerajaan Bali dan peristiwa Puputan.
- • Arsip VOC (Abad 17-18)
- • Foto Puputan 1906
- • Perjanjian Gianyar 1900
Keruntuhan Kerajaan-Kerajaan
Tragedi Puputan - Perlawanan terakhir yang heroik namun tragis mengakhiri era kerajaan di Bali
Puputan: Perang Sampai Mati
Puputan berasal dari bahasa Bali yang berarti "tamat" atau "habis". Ini adalah ritual perang sampai mati yang dipilih oleh raja-raja Bali ketika menghadapi kekalahan pasti melawan kolonial Belanda. Mereka memilih mati terhormat daripada menyerah dan dijajah.
Puputan bukan sekadar bunuh diri massal, melainkan perlawanan spiritual dan filosofis terhadap penjajahan. Para raja, keluarga kerajaan, dan rakyat berbaris keluar dengan pakaian putih upacara, membawa keris pusaka, menghadapi peluru Belanda dengan keberanian tak tergoyahkan.
Perang Buleleng
Kerajaan pertama yang jatuh
Tiga kali ekspedisi militer Belanda menyerang Buleleng. Perang dipicu oleh hak tawan karang (hak atas kapal karam) yang ditolak Belanda. Raja I Gusti Ngurah Made Karangasem memimpin perlawanan gagah berani.
Ekspedisi pertama Belanda
Buleleng takluk sepenuhnya
Puputan Badung
Tragedi yang mengguncang dunia
Dipicu insiden kapal Sri Kumala yang terdampar, Belanda menyerang Denpasar. Raja I Gusti Ngurah Made Agung memimpin keluarga dan rakyatnya dalam Puputan. Sekitar 1.000-4.000 orang gugur termasuk wanita dan anak-anak.
"Para wanita melemparkan perhiasan emas mereka ke arah tentara Belanda, seolah menantang mereka untuk mengambil harta yang begitu didambakan. Kemudian mereka menyerang dengan keris, meski menghadapi senapan."
— Laporan saksi mata Belanda
Puputan Tabanan
Dua hari setelah Badung
Setelah menyaksikan Puputan Badung, Raja Tabanan Cokorda Ngurah awalnya menyerah. Namun ketika diperlakukan tidak hormat dan akan diasingkan, beliau memilih bunuh diri bersama putranya di tahanan.
Cokorda Ngurah
Bunuh diri di tahanan
Puputan Klungkung
Akhir era kerajaan di Bali
Puputan terakhir dan paling simbolis. Dewa Agung Jambe II, sebagai "Raja di atas segala Raja Bali", memimpin keluarga kerajaan menghadapi Belanda. Kematian beliau menandai berakhirnya seluruh era kerajaan Hindu di Bali.
Korban: Raja Dewa Agung Jambe II, permaisuri, putra mahkota, dan sekitar 200 anggota kerajaan gugur. Monumen Puputan Klungkung kini berdiri di lokasi tragedi.
Ringkasan Keruntuhan Kerajaan
Meski kerajaan-kerajaan runtuh, semangat Puputan menjadi simbol keberanian dan kehormatan yang terus dikenang. Budaya dan tradisi kerajaan tetap hidup dalam masyarakat Bali modern.