Ticker

6/recent/ticker-posts

OM SWASTIASTU

SELAMAT DATANG DI BLOG JULDWIPAESCMART

SRATEGI PEMBELAJARAAN KOOPERATIF

 

TERIMAKASIH SUDAH MANGUNJUNGI BLOG JULDWIPAESCMART, JULDWIPAESCMART TEMPAT BERBAGI MATERI BAHASA BALI SERTA BERBAGAI INFORMASI FOREX , MODEL/STRATEGI PEMBELAJARAN, KARYA ILMIAH,TIPS, APLIKASI SERTA PENGALAMAN HIDUP PENULIS.


SRATEGI PEMBELAJARAAN KOOPERATIF

Cooperatif Learning atau belajar kooperatif merupakan suatu pendekatan dalam proses pembelajaran yang membutuhkan partisipasi dan kerjasama kelompok. Falsafah yang mendasari model pembelajaran kooperatif dalam pendidikan adalah  falsafah homo homini socius, bahwa setiap manusia membutuhkan orang lain, dengan kata lain manusia akan selalu bergotong royong/bekerjasama dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Kerjasama merupakan kebutuhan yang sangat penting artinya bagi kelangsungan hidup. Tanpa kerjasama, tidak akan ada individu, keluarga, organisasi ataupun sekolah.(Lie, 2002).  

Bila dilihat lebih jauh, pembelajaran kooperatif ini bermuara pada teori belajar yang dikemukakan oleh Brunner dimana teori belajar ini lebih dikenal dengan teori belajar bermakna. Menurut Brunner (Ratna, 1988) ada dua asumsi belajar. Asumsi pertama bahwa perolehan pengetahuan merupakan suatu proses interaktif. Brunner yakin bahwa orang yang belajar beriteraksi dengan lingkungannya secara aktif, akan merubah dirinya dan lingkungannya. Asumsi kedua bahwa orang yang mengkontruksi pengetahuannya dengan menghubungkan informasi yang masuk dengan informasi yang disimpan yang diperoleh sebelumnya.

Dari pernyataan Brunner ini, dapat dipahami bahwa belajar tidaklah hanya berlaku secara individual, tetapi dapat dilakukan secara berinteraksi dengan lingkungan. Dan dalam hal ini termasuk belajar secara kerjasama atau kelompok. Dan bahwa setiap individu telah memiliki pengetahuan atau informasi awal terhadap sesuatu materi dan akan dihubungkannya pada pengetahuan baru. Dengan demikian belajar menurut Brunner ini lebih menekankan pada partisipasi setiap individu untuk secara aktif dalam pembelajaran, sehingga belajar tersebut akan selalu bermakna, dan akan berpengaruh pada perubahan dirinya sendiri serta lingkungannya.

Lie (2002) mengemukakan ada empat dasar pokok pemikiran dalam pembelajaran kooperatif yaitu: (1) Pengetahuan ditemukan, dibentuk, dan dikembangkan oleh siswa. (2) Siswa membangun pengetahuan secara aktif. Belajar adalah suatu kegiatan  yang dilakukan terhadap siswa. Siswa tidak menerima  pengetahuan dari guru atau kurikulum secara pasif. (3) Pengajar perlu berusaha mengembangkan kompetensi dan kemampuan siswa. Kegiatan belajar mengajar harus lebih menekankan proses daripada hasil. Setiap orang pasti mempunyai potensi. Paradigma lama mengklasifikasikan siswa dalam kategori prestasi belajar seperti dalam penilaian ranking dan hasil-hasil tes. Paradigma lama ini menganggapkan kemampuan sebagai sesuatu yang sudah mapan dan tidak dipengaruhi oleh usaha dan pendidikan. Paradigma baru mengembangkan kompetensi dan potensi siswa berdasarkan asumsi bahwa usaha dan pendidikan bisa meningkatkan kemampuan mereka. (4) Pendidikan adalah interaksi pribadi diantara para siswa dan interaksi antara guru dan siswa. Kegiatan pendidikan adalah suatu proses sosial yang tidak dapat terjadi tanpa interaksi antarpribadi. Belajar adalah suatu proses pribadi, tetapi juga proses sosial yang terjadi ketika masing-masing orang berhubungan dengan yang lain dan membangun pengertian dan pengetahuan bersama Dalam perkembangan selanjutnya teori belajar ini banyak digunakan dalam pembelajaran, termasuk pembelajaran kooperatif. Beberapa pengertian dan penjelasan dari beberapa  ahli dan pengembang pendidikan  akan dimukakan dalam kutipan berikut ini.

Cooper et al (1990) dikutip Dunne (1990) menyatakan cooperative learning is a struktureed, Systematic instructional strategy in which small group work together to produc (belajar bekerja sama dalam kelompok kecil untuk memperoleh hasil belajar merupakan suatu strategi pembelajaran yang sistematis dalam meningkatkan aktivitas dan efisiensi untuk mencapai tujuan dari setiap strategi pembelajaran, sehingga dapat membantu terlaksananya suatu proses pembelajaran yang menarik dan penuh rasa kebersamaan guna mencapai hasil belajar yang lebih baik dari sebelumnya).

Slavin yang dikutip oleh Gole dan Chan (1990) menyatakan cooperative learning mengacu kepada sekumpulan prosedur perintah dimana siswa yang mempunyai kemampuan berbeda digabung dalam kelompok belajar untuk mencapai beberapa tujuan belajar yang umum. Proses pembelajaran dengan strategi cooperative mampu merangsang dan menggugah potensi siswa secara optimal dalam suasana belajar pada kelompok kecil yang bervariasi kemampuan dan tingkat pemahamannya.

Menurut Rasyid (2004), Cooperative learning dapat dilihat sebagai suatu model pembelajaran dalam situasi tertentu yang menekankan aktifitas dalam belajar kelompok kecil. Strategi pembelajaran ini memanfaatkan bantuan siswa lain untuk meningkatkan pemahaman dan penguasan bahan pelajaran karena ada kalanya siswa lebih memahami informasi yang disampaikan oleh temannya daripada gurunya serta bahasa yang digunakan oleh siswa lebih mudah dipahami oleh siswa lainnya. Anggota kelompok kecil dalam mempelajari materi pelajaran dan mengerjakan tugas, bertanggung jawab atas keberhasilan dari kelompoknya. Rasyid berpendapat bahwa strategi pembelajaran yang optimal adalah apabila guru mengkondisikan siswa untuk bekerjasama sengan siswa yang lainnya.

Ermawati (1999) mengemukakan pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang mempersyaratkan siswa terbagi dalam kelompok-kelompok kecil dengan struktur tugas kognitif dan sosial serta struktur tujuan dan penghargaan yang mengacu pada tingkat koperasi dan kompetisi yang diinginkan. Ibrahim  (2000) mengemukakan bahwa anggota tim menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran untuk menuntaskan materi pelajaran dan kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan pelajaran melalui diskusi. Dari pendapat Ermawati dan Ibrahim jelas bahwa pembelajaran kooperatif  ini ialah pembelajaran yang dilakukan dengan cara membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil dan menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran untuk menuntaskan materi pelajaran melalui diskusi.

Tujuan kelompok siswa kooperatif  adalah untuk membuat setiap anggotanya merasa kuat. Siswa  belajar bersama  sehingga mereka kemudian mampu mencapai kecakapan yang tinggi. Menurut Rasyid jelas bahwa pembelajaran kooperatif bersifat lebih kompleks dibandingkan dengan situasi belajar kompetitif dan individualistik, karena siswa harus melaksanakan secara bersamaan dalam tugas  mempelajari subjek materi pelajaran  dan dalam tim kerja secara efektif didalam kelompok.

Menurut Gole dan Chan (1990) ada empat prosedur  effective cooperation learning yaitu : (1) take and give (saling memberi dan menerima, (2) Waiting terms (menunggu giliran), (3) contributing ideas (sumbangan ide-ide), (4) Listening to suggestion (mendengar saran-saran). Kariman (2002) menyatakan belajar secara koperatif akan mengahasilkan prestasi, kerjasama dan penyesuaian psikologis yang lebih baik dibandingkan dengan penggunaan metode pembelajaran yang lain dalam mengukur variabel hasil.

Penggunaan strategi pembelajaran kooperatif banyak manfaatnya bila di bandingkan dengan pembelajaran yang lain. Johnson (1998) dikutip Gole dan Chan (1999) mengemukakan alasan penggunaan pembelajaran kooperatif antara lain adalah strategi belajar siswa dapat dilakukan secara: (a) secara koperatif, (b) secara kompetitif,dan (c) prestasi perseorangan.  Situasi kompetitif sangat berbeda dengan situasi koperatif,  pada situasi belajar kompetitif sasaran belajar hanya dapat dicapai oleh satu atau beberapa orang saja, sedangkan situasi belajar koperatif terdapat hubungan yang tidak menguntungkan dalam mencapai tujuannya jika siswa dalam kelasnya gagal mencapai tujuan evaluasinya. Yang kemudian mengakibatkan siswa harus bekerja keras agar lebih baik dari teman kelasnya, atau siswa akan merasa putus asa karena ia merasa tidak memiliki kepercayaan diri untuk menang dalam persaingan. Dalam situasi individual, siswa berusaha sendiri untuk mencapai tujuan yang tidak ada hubunganya dengan teman kelasnya. Prestasi siswa pada situasi belajar ini tidak didasarkan atas siswa lainya yang situasi ini difokuskan atas keinginan dan keberhasilan individu serta mengabaikan kesuksesan dan kegagalan orang lain.

Roger dan David Johnson yang dikutip Lie (2002)  mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif. Ada lima unsur model pembelajaran gotong royong untuk mencapai hasil maksimal, antara lain : (1) Saling ketergantungan positif; keberhasilan kelompok sangat tergantung pada usaha setiap anggotanya. dimana masing-masing anggota yangmemilki tugas dan tanggung jawab akan menjadi  satu kesatuan rantai kerja untuk mencapai hasil kerjasama kelompok yang maksimal. (2) Tanggung jawab perseorangan; setiap siswa memiliki tanggung jawab dalam mengerjakan atau menyelesaikan tugas yang telah dibagi, untuk melakukan yang terbaik. (3) Tatap muka; Setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertemu muka berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para siswa untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Hasil pemikiran beberapa kepala akan lebih kaya dariapada hasil pemikiran satu kepala saja. Inti dari sisnergi ini adalah menghargai perbedaan, memafaatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan masing-masing anggota. (4) komunikasi antar anggota; unsur ini menghendaki adanya komunikasi antar anggota, karena keberhasilan dalam pembelajaran ini ditentukan dengan komunikasi yang efektif antara siswa. (5) Evaluasi proses kelompok; bagian ini adalah mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerjasama dengan efektif.

Unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif menurut Ibrahim (2000) adalah : 

  • siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka sehidup sepenanggungan bersama, 
  • siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu didalam kelompoknya, seperti milik mereka sendiri, 
  • Siswa haruslah melihat bahwa semua anggota didalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama, 
  • Siswa haruslah membagi tugas dan bertanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya, 
  • Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah/penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok, 
  • siswa berbagi kepemimpinan  dan mereka membutuhkan ketrampilan untuk belajar bersama dalam proses belajarnya, dan 
  • siswa akan diminta akan mempertanggung jawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

Menurut Ibrahim (2000) pembelajaran kooperatif terdiri dari : (1) Student Teams Achievment Division (STAD): (2)  Jigsaw, dan (3) Investigasi Kelompok (IK). Dari beberapa pendapat yang telah diuraikan diatas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa yang dimaksudkan strategi pembelajaran kooperatif adalah suatu strategi pembelajaran yang sifatnya membelajarkan siswa secara berkelompok dan kerja sama dalam menyelesaikan tugas dalam mencapai  tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Secara khusus untuk membedakan strategi pembelajaran kooperatif dengan strategi lain adalah kepada penekanan untuk membelajarkan siswa atau keaktifan siswa, belajar dan bekerja sama, terbentuknya interaksi, tanggung jawab individu dan kelompok, dan ketergantungan positif untuk saling membantu dan memberi informasi  dalam kelompok belajar  yang ini akan lebih cendrung mencapai tujuan pembelajaran yang efektif.


DAFTAR PUSTAKA

 

Dimiyati dan Mudjiono. (1999). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta

Gagne, R.M. (1989). Kondisi Belajar dan Teori Pembelajaran (terjemahan Munardi). Jakarta : PAU-UT

Gole, P.G. dan Chan. L.K.S. (1990). Methodes and Strategies for Special Educational. New York: Prentice Hall

Kariman, T.M. (2002). Strategi Pembelajaran Abad 21. Jakarta: Makalah (disajikan dalam Seminar Nasional Teknologi Pemebelajaran 18-19 uli 2002 Hotel Indonesia, Jakarta)

Lie,A. (2002). Cooperatif Learning. Jakarta: Gramedia Widya Sarana

Mansyur.(1995). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Grasindo

Ratna.W.D.(1991) Teori-Teori Belajar, Jakarta: Glora Aksara Pratama

Reigeluth,C.M. (1983). Intructional Design Theoris and Models An Over Eiew of Their Current Situs, London: Lowrence Erl Baum Associates

Sudjana, N. (2000) Strategi Belajar Mengajar, Jakarta : Rineka Cipta

Sudjana. 1992. Metoda Statistika. Bandung : Tarsito

Suriasumantri, Jujun S. (2001). Ilmu Dalam Persfektif Sebuah Kumpulan tentang Karangan Hakekat Ilmu. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

UU.No 20. Tahun 2003. Sistem Pendidikan Nasional. Bandung:Fokus Media

UU.No.20. Tahun 2005. Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Fokus Media


Posting Komentar

0 Komentar

SELAMAT DATANG DAN SELAMAT MEMBACA

SELAMAT DATANG DAN SELAMAT MEMBACA