ᬑᬁ ᬲ᭄ᬯᬲ᭄ᬢ᭄ᬬᬲ᭄ᬢᬸ

CONTOH MAKALAH PENINGKATAN MINAT BACA SISWA DENGAN PERMAINAN KUIS MATA PELAJARAN

 MOHON IZIN SHARE BUAT SEBAGAI DASAR ADIK-ADIK SAYA DALAM PEMBELAJARAN PEMBUATAN MAKALAH PENELITIAN


BEST PRACTICE

PENINGKATAN MINAT BACA SISWA DENGAN PERMAINAN KUIS

MATA PELAJARAN KEWIRAUSAHAAN DI SMK N 1 GEDANGSARI

GUNUNGKIDUL – DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

(Fuad Hartadi, M.B.A)

 

I.            PENDAHULUAN

SMK N 1 Gedangsari merupakan sekolah yang terletak di daerah pinggiran kabupaten Gunungkidul. Orang tua siswa sebagian besar menjadi petani dan pedagang kecil. Rendahnya tingkat pendidikan orangtua siswa merupakan salah satu faktor kurangnya perhatian terhadap prestasi belajar siswa. Wilayah Gedangsari yang berbukit-bukit menyebabkan kurang lancarnya transportasi. Siswa datang ke sekolah sebagian dengan berjalan kaki dan sebagian menggunakan sepeda motor.

Minat membaca siswa, khususnya di SMK N 1 Gedangsari relatif sangat kurang. Fenomena meniru jawaban teman pada saat mengerjakan tugas merupakan sesuatu yang sering terjadi. Tugas-tugas rumah dikerjakan di sekolah dengan meniru jawaban siswa yang sudah mengerjakan. Penulis seringkali menemukan siswa yang mencontek atau meniru jawaban teman pada saat tes semester.

Fenomena diatas ternyata tidak hanya terjadi di SMK N 1 Gedangsari, namun hampir merata terjadi di sekolah-sekolah lain. Kurang minatnya siswa dalam membaca merupakan pangkal fenomena tersebut terjadi. Kebanyakan siswa akan membaca pada malam harinya apabila akan diadakan ulangan harian.

Fakta rendahnya minat baca siswa menunjukkan hal tersebut, sebagaimana laporan bank Dunia no.16369-IND (Education in Indonesi from Crisis to recovery) menyebutkan bahwa tingkat membaca usia kelas VI Sekolah Dasar di Indonesia hanya mampu meraih skor 51,7 di bawah Filipina (52,6), Thailand (65,1) dan Singapura (74,0). Data Badan Pusat Statistik tahun 2006 menunjukan bahwa penduduk Indonesia yang menjadikan baca sebagai sumber informasi baru sekitar 23,5%. Sedangkan yang menonton televisi 85,9% dan mendengarkan radio 40,3%. (Laporan Bank Dunia dalam Nining Asri, http://sahabatguru.wordpress.com)

Beberapa hasil penelitian yang ditulis dalam edukasi.kompasiana.com menunjukkan:

1.      Laporan International Association for Evaluation of Educational pada tahun 1992 dalam sebuah studi kemampuan membaca murid-murid sekolah dasar kelas IV pada 30 negara di dunia, menyimpulkan bahwa Indonesia menempati urutan ke-29 setingkat di atas Venezuela. Peta di atas relevan dengan hasil studi dari Vincent Greannary yang dikutip oleh World Bank dalam sebuah Laporan Pendidikan  “Education in Indonesia from Crisis to Recovery” tahun 1998, hasil studi tersebut menunjukan bahwa kemampuan membaca anak-anak kelas VI sekolah dasar di Indonesia, hanya mampu meraih kedudukan paling akhir dengan nilai 51,7% setelah Filipina yang memperoleh 52,6%  dan Thailand dengan nilai 65,1% serta Singapura dengan nilai 74,0% dan Hongkong yang memperoleh 75,5%.

2.      Hasil survei UNESCO tahun 1992 menyebutkan, tingkat minat baca rakyat Indonesia menempati urutan 27 dari 32 negara.

3.      Hasil survei yang dilakukan Departemen Pendidikan Nasional tahun 1995 menyatakan, sebanyak 57 persen pembaca dinilai sekadar membaca, tanpa memahami dan menghayati apa yang dibacanya.

4.      Statistik yang dikeluarkan UNICEF didalam beberapa dasawarsa terakhir masih saja menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara di dunia yang penduduknya dalam mengkonsumsi bacaan, baik berupa koran, majalah, maupun buku, tergolong relatif sedikit.(Wasil Abu Ali)

5.      Berdasarkan laporan UNDP tahun 2003 dalam (Human Development Report) 2003 bahwa Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Indeks – HDI)berdasarkan angka buta huruf menunjukan bahwa  pembangunan manusia di Indonesia menempati urutan yang ke 112 dari 174 negara di dunia. Sedangkan Vietnam menempati urutan ke 109 padahal negara itu baru saja keluar dari konflik politik yang cukup besar, namun Vietnam lebih yakin bahwa dengan membangun manusianya sebagai prioritas terdepan akan mampu mengejar ketertinggalan yang selama ini mereka alami.

6.      Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2006 menunjukan, bahwa masyarakat Indonesia belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama dalam mendapatkan informasi.Masyarakat lebih memilih menonton televisi (85,9%) dan/atau mendengarkan radio (40,3%) daripada membaca koran (23,5%). (sumber:www.bps.go.id).

7.      Menurut Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat H.R Agung Laksono, prosentase minat baca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,01 persen. Artinya dalam 10.000 orang hanya 1 orang saja yang memiliki minat baca.

Berdasarkan uraian diatas, perlunya metode atau cara yang digunakan guru untuk membangkitkan minat belajar siswa secara berkelanjutan. Berdasarkan pengalaman penulis menjadi guru, beberapa sebab yang memengaruhi minat membaca siswa antara lain:

1.      Ujian, tes atau ulangan,

2.      Intensif, bonus atau hadiah baik berupa materi maupun non materi,

3.      Mengikutsertakan siswa dalam proses pembelajaran,

4.      Pembelajaran yang menyenangkan,

5.      Perhatian orangtua siswa yang tinggi terhadap proses belajar anaknya,

6.      Pelatihan motivasi belajar siswa yang berkelanjutan (tiap tiga bulanan atau minimal satu semester sekali)

Memerhatikan hal tersebut  penulis membangkitkan minat membaca siswa dengan permainan kuis mata pelajaran. Permainan ini mengikutsertakan siswa dalam proses belajar, terutama dalam hal membangkitkan minat baca.

 

II.         PEMECAHAN MASALAH

Penulis mencoba memecahkan masalah kurang minatnya siswa dalam membaca melalui permainan kuis mata pelajaran. Prosedur pelaksanaan kuis ini diuraikan sebagai berikut.

1.      Tahap persiapan

Pada tahap ini guru mempersiapkan kuis dengan membuat pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan materi pelajaran. Sebelum kuis dilaksanakan guru dan siswa membuat kesepakatan atau kontrak belajar. Kesepakatan tersebut sebagian besar merupakan inisiatif dari siswa. Isi kesepakatn tersebut berupa kewajiban siswa untuk membaca materi sebelum kuis dimulai.

Siswa yang mampu menjawab kuis diberi hadiah. Hadiah yang diberikan berupa nilai KKM atau hadiah yang lain. Siswa yang tidak mampu menjawab kuis maka terkena sanksi. Sanksi merupakan suatu bentuk kesepakatan untuk merubah sikap siswa, semula tidak mau membaca menjadi mau membaca.

Sanksi yang di buat merupakan ide/saran dari siswa dan wajib disepakati oleh seluruh siswa. Sanksi yang diberikan masing-masing kelas sangat dimungkinkan berbeda-beda. Guru tidak disarankan memberikan sanksi. Fungsi guru hanya sebagai fasilitator dalam pemberian sanksi. Hal-hal yang perlu disiapkan guru yaitu:

1)      Membuat pertanyaan-pertanyaan kuis sesuai materi yang sedang dibahas. Pertanyaan tersebut bisa dibuat dengan menggunakan kartu-kartu kuis, power point bila menggunakan LCD proyektor atau daftar pertanyaan. Secara normatif hal ini tidak memberatkan guru.

2)      Akan lebih menarik bila guru membuat pertanyaan kuis pada kartu. Satu kartu satu pertanyaan.

3)      Guru membuat kartu yang berisi nama-nama siswa atau berisi nomor presensi siswa (bisa digunakan untuk semua kelas).

4)      Guru menyiapkan daftar nilai untuk mencatat siswa yang mampu menjawab pertanyaan dengan benar

5)      Guru menyiapkan daftar untuk mencatat siswa yang tidak mampu menjawab dengan benar, sebagai bahan masukan untuk pembinaan.

2.      Tahap pelaksanaan

Sebelum kuis dilaksanakan guru wajib memberikan modul materi, sebagai bahan materi kuis pada pertemuan yang akan datang. Pelaksanaan kuis dilakukan pada 15 atau 20 menit awal pelajaran. Proses ini wajib dilakukan setiap pertemuan tatap muka. Pengkondisian semacam ini merupakan bentuk penanaman kebiasaan siswa, agar selalu membaca materi sebelum pelajaran dimulai.

Guru harus selalu mewajibkan siswa untuk membaca materi yang akan datang sebanyak lebih kurang 3-5 halaman. Pelaksanaan kuis yang dilakukan diuraikan berikut ini.

1)      Sebelumnya guru sudah memberikan modul/materi pelajaran pada siswa.

2)      Guru membuat pertanyaan-pertanyaan untuk kuis sesuai dengan materi yang dibaca siswa.

3)      Setelah pembukaan guru memulai pelajaran dengan kuis selama 15 sampai 20 menit. Tujuan utama kuis adalah mengekplorasi siswa apakah sudah membaca, sudah mempunyai pemahaman awal terhadap materi yang akan disampaikan atau belum.

4)      Guru meminta siswa untuk meneriakan yel-yel sebelum kuis dimulai. Contoh Yel-yel yaitu: guru mengatakan Membaca, siswa menjawab Semangat, Senang, Sejahtera. Atau yang lain guru mengatakan Membaca, siswa menjawab Semangat, Senang, Bahagia. Yel-yel dimaksudkan untuk membangkitkan semangat siswa dan menanamkan benih senang membaca.

5)      Guru mengajukan pertanyaan pada siswa, apabila tidak ada siswa yang berani mengangkat tangan untuk menjawab maka dipilih dengan menggunakan kartu. Guru memberikan kartu yang berisi nama-nama atau nomor presensi siswa. siswa diminta memilih kartu tersebut, siswa yang terpilih wajib menjawab pertanyaan yang diajukan guru.

6)      Bagi siswa yang mampu menjawab diberi hadiah berupa nilai KKM. Bila mampu menjawab pertanyaan kedua, ketiga dan seterusnya diberi tambahan nilai. Contoh jawaban benar pertanyaan pertama diberi nilai 65 (KKM), kedua diberi tambahan nilai 5 point menjadi 70, ketiga diberi tambahan nilai 5 point menjadi 75 dan seterusnya.

7)      Bagi siswa yang tidak mampu menjawab pertanyaan akan diberikan sanksi dan pengurangan nilai. Sanksi yang diberikan sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya. Sanksi bukan suatu hukuman tetapi suatu alat untuk merubah siswa agar mau membaca materi sebelum pembelajaran dimulai.

8)      Pada akhir kuis menit ke-15 atau ke-20, guru membacakan hasil perolehan nilai kuis maupun siswa yang mendapat sanksi.

9)      Selesai kuis guru melanjutkan pembelajaran sebagaimana biasa.

10)  Pada akhir pembelajaran guru meminta siswa membaca materi yang akan datang sebanyak lebih kurang 3-5 halaman untuk kuis pertemuan yang akan datang.

3.      Tahap penjelasan materi

Setelah kuis selesai, guru akan mendapatkan informasi yang berharga tentang pemahaman siswa terhadap materi yang dikuasai siswa. Guru wajib menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh siswa pada saat kuis berlangsung.

III.      HASIL YANG DICAPAI

Kuis ini penulis lakukan sejak tahun 2003 saat mengajar mata pelajaran Ekonomi dan Akuntasi kelas III di SMA Negeri 1 Karangmojo. Saat itu masih saja ada siswa yang tidak lulus ujian nasional untuk mata pelajaran Ekonomi/Akuntansi. Untuk membangkitkan minat baca siswa penulis mencoba mengikutsertakan siswa dalam proses pembelajaran melalui permainan kuis mata pelajaran. Setelah diterapkan penulis dapat mengatakan bahwa semua siswa lulus ujian nasional untuk mata pelajaran Ekonomi/akuntasi.

Pada tahun 2005 penulis ditugaskan untuk mengajar mata pelajaran kewirausahaan di SMK N 1 Gedangsari. Mata pelajaran kewirausahan bukan mata pelajaran yang diujikan secara nasional sehingga metode kuis tidak penulis terapkan.

Pada tahun pelajaran 2007/2008 SMKN 1 Gedangsari meluluskan siswa yang pertamakali. Hasil kelulusan menunjukkan ada siswa yang tidak lulus ujian, sehingga harus ikut ujian nasional kejar paket. Meskipun bukan mata pelajaran yang diujikan secara nasional penulis mencoba menerapkan metode kuis untuk membangkitkan minat baca siswa.

Pada tahun 2009/2010 SMK N 1 Gedangsari mampu meluluskan seluruh siswanya (lulus 100%). Tingkat kelulusan tersebut Alhamdulillah bertahan sampai tahun 2013 ini. Berdasarkan hal-hal tersebut penulis dapat mengatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi kelulusan siswa adalah minat baca siswa. Salah satu faktor yang mempengaruhi minat baca siswa adalah kuis mata pelajaran.

IV.      SIMPULAN DAN SARAN

1.      Simpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa:

1)      Kuis mata pelajaran mempengaruhi minat baca siswa.

2)      Memberikan hadiah pada siswa yang berprestasi akan meningkatkan minat belajar siswa

3)      Memberikan sanksi pada siswa yang bersalah perlu diberikan dalam rangka mengubah perilakunya menjadi lebih baik.

2.      Saran

Bagi guru:

1)      Berilah pertanyaan-pertanyaan secara lisan pada siswa baik diawal maupun diakhir pembelajaran untuk membangkitkan minat baca siswa. Berilah hadiah bagi siswa yang mampu menjawab pertanyaan.

2)      Mintalah teman sejawat untuk menilai proses pembelajaran minimal setahun sekali. Diskusikan hasil penilaian tersebut untuk memperbaiki proses pembelajaran yang masih kurang baik.

3)      Libatkan siswa dalam pemberian sanksi untuk mengubah perilaku siswa.

 

 

contoh video pidarta

 Durus uratiang vedeo sane wenten ring sor puniki antuk klik video punika wusan punika suratang kaidah basa sane wenten ring video pidarta sane sampun kapiarsayang manut kauripan ngraina! (Setelah memperhatikan video tersebut tliskanlah kaedah bahasa yang ada didalam pidarta tersebut berdasarkan kehidupan sehari-hari)!



SUKRENI GADIS BALI

 INDAYANG URATIANG WACENAN RING SOR! RAHAJENG NGAWACEN!



GAMBARAN UMUM ILMU BAHASA

 Oleh: Deny A. Kwary (dosen Unair)

 

I. Pendahuluan

Dalam berbagai kamus umum, linguistik didefinisikan sebagai ‘ilmu bahasa’ atau ‘studi ilmiah mengenai bahasa’ (Matthews 1997). Dalam The New Oxford Dictionary of English (2003), linguistik didefinisikan sebagai berikut:

“The scientific study of language and its structure, including the study of grammar, syntax, and phonetics. Specific branches of linguistics include sociolinguistics, dialectology, psycholinguistics, computational linguistics, comparative linguistics, and structural linguistics.”

Program studi Ilmu Bahasa mulai jenjang S1 sampai S3, bahkan sampai post-doctoral program telah banyak ditawarkan di universitas terkemuka, seperti University of California in Los Angeles (UCLA), Harvard University, Massachusett Institute of Technology (MIT), University of Edinburgh, dan Oxford University. Di Indonesia, paling tidak ada dua universitas yang membuka program S1 sampai S3 untuk ilmu bahasa, yaitu Universitas Indonesia dan Universitas Katolik Atma Jaya.

 

II. Sejarah Perkembangan Ilmu Bahasa

Ilmu bahasa yang dipelajari saat ini bermula dari penelitian tentang bahasa sejak zaman Yunani (abad 6 SM). Secara garis besar studi tentang bahasa dapat dibedakan antara (1) tata bahasa tradisional dan (2) linguistik modern.

2. 1 Tata Bahasa Tradisional

Pada zaman Yunani para filsuf meneliti apa yang dimaksud dengan bahasa dan apa hakikat bahasa. Para filsuf tersebut sependapat bahwa bahasa adalah sistem tanda. Dikatakan bahwa manusia hidup dalam tanda-tanda yang mencakup segala segi kehidupan manusia, misalnya bangunan, kedokteran, kesehatan, geografi, dan sebagainya. Tetapi mengenai hakikat bahasa – apakah bahasa mirip realitas atau tidak – mereka belum sepakat. Dua filsuf besar yang pemikirannya terus berpengaruh sampai saat ini adalah Plato dan Aristoteles.

Plato berpendapat bahwa bahasa adalah physei atau mirip realitas; sedangkan Aristoteles mempunyai pendapat sebaliknya yaitu bahwa bahasa adalah thesei atau tidak mirip realitas kecuali onomatope dan lambang bunyi (sound symbolism). Pandangan Plato bahwa bahasa mirip dengan realitas atau non-arbitrer diikuti oleh kaum naturalis; pandangan Aristoteles bahwa bahasa tidak mirip dengan realitas atau arbitrer diikuti oleh kaum konvensionalis. Perbedaan pendapat ini juga merambah ke masalah keteraturan (regular) atau ketidakteraturan (irregular) dalam bahasa. Kelompok penganut pendapat adanya keteraturan bahasa adalah kaum analogis yang pandangannya tidak berbeda dengan kaum naturalis; sedangkan kaum anomalis yang berpendapat adanya ketidakteraturan dalam bahasa mewarisi pandangan kaum konvensionalis. Pandangan kaum anomalis mempengaruhi pengikut aliran Stoic. Kaum Stoic lebih tertarik pada masalah asal mula bahasa secara filosofis. Mereka membedakan adanya empat jenis kelas kata, yakni nomina, verba, konjungsi dan artikel.

Pada awal abad 3 SM studi bahasa dikembangkan di kota Alexandria yang merupakan koloni Yunani. Di kota itu dibangun perpustakaan besar yang menjadi pusat penelitian bahasa dan kesusastraan. Para ahli dari kota itu yang disebut kaum Alexandrian meneruskan pekerjaan kaum Stoic, walaupun mereka sebenarnya termasuk kaum analogis. Sebagai kaum analogis mereka mencari keteraturan dalam bahasa dan berhasil membangun pola infleksi bahasa Yunani. Apa yang dewasa ini disebut "tata bahasa tradisional" atau " tata bahasa Yunani" , penamaan itu tidak lain didasarkan pada hasil karya kaum Alexandrian ini.

Salah seorang ahli bahasa bemama Dionysius Thrax (akhir abad 2 SM) merupakan orang pertama yang berhasil membuat aturan tata bahasa secara sistematis serta menambahkan kelas kata adverbia, partisipel, pronomina dan preposisi terhadap empat kelas kata yang sudah dibuat oleh kaum Stoic. Di samping itu sarjana ini juga berhasil mengklasifikasikan kata-kata bahasa Yunani menurut kasus, jender, jumlah, kala, diatesis (voice) dan modus.

Pengaruh tata bahasa Yunani sampai ke kerajaan Romawi. Para ahli tata bahasa Latin mengadopsi tata bahasa Yunani dalam meneliti bahasa Latin dan hanya melakukan sedikit modifikasi, karena kedua bahasa itu mirip. Tata bahasa Latin dibuat atas dasar model tata bahasa Dionysius Thrax. Dua ahli bahasa lainnya, Donatus (tahun 400 M) dan Priscian (tahun 500 M) juga membuat buku tata bahasa klasik dari bahasa Latin yang berpengaruh sampai ke abad pertengahan.

Selama abad 13-15 bahasa Latin memegang peranan penting dalam dunia pendidikan di samping dalam agama Kristen. Pada masa itu gramatika tidak lain adalah teori tentang kelas kata. Pada masa Renaisans bahasa Latin menjadi sarana untuk memahami kesusastraan dan mengarang. Tahun 1513 Erasmus mengarang tata bahasa Latin atas dasar tata bahasa yang disusun oleh Donatus.

Minat meneliti bahasa-bahasa di Eropa sebenarnya sudah dimulai sebelum zaman Renaisans, antara lain dengan ditulisnya tata bahasa Irlandia (abad 7 M), tata bahasa Eslandia (abad 12), dan sebagainya. Pada masa itu bahasa menjadi sarana dalam kesusastraan, dan bila menjadi objek penelitian di universitas tetap dalam kerangka tradisional. Tata bahasa dianggap sebagai seni berbicara dan menulis dengan benar. Tugas utama tata bahasa adalah memberi petunjuk tentang pemakaian "bahasa yang baik" , yaitu bahasa kaum terpelajar. Petunjuk pemakaian "bahasa yang baik" ini adalah untuk menghindarkan terjadinya pemakaian unsur-unsur yang dapat "merusak" bahasa seperti kata serapan, ragam percakapan, dan sebagainya.

Tradisi tata bahasa Yunani-Latin berpengaruh ke bahasa-bahasa Eropa lainnya. Tata bahasa Dionysius Thrax pada abad 5 diterjemahkan ke dalam bahasa Armenia, kemudian ke dalam bahasa Siria. Selanjutnya para ahli tata bahasa Arab menyerap tata bahasa Siria.

Selain di Eropa dan Asia Barat, penelitian bahasa di Asia Selatan yang perlu diketahui adalah di India dengan ahli gramatikanya yang bemama Panini (abad 4 SM). Tata bahasa Sanskrit yang disusun ahli ini memiliki kelebihan di bidang fonetik. Keunggulan ini antara lain karena adanya keharusan untuk melafalkan dengan benar dan tepat doa dan nyanyian dalam kitab suci Weda.

Sampai menjelang zaman Renaisans, bahasa yang diteliti adalah bahasa Yunani, dan Latin. Bahasa Latin mempunyai peran penting pada masa itu karena digunakan sebagai sarana dalam dunia pendidikan, administrasi dan diplomasi internasional di Eropa Barat. Pada zaman Renaisans penelitian bahasa mulai berkembang ke bahasa-bahasa Roman (bahasa Prancis, Spanyol, dan Italia) yang dianggap berindukkan bahasa Latin, juga kepada bahasa-bahasa yang nonRoman seperti bahasa Inggris, Jerman, Belanda, Swedia, dan Denmark.

 

2. 2 Linguistik Modern

2. 2. 1 Linguistik Abad 19

Pada abad 19 bahasa Latin sudah tidak digunakan lagi dalam kehidupan sehari-hari, maupun dalam pemerintahan atau pendidikan. Objek penelitian adalah bahasa-bahasa yang dianggap mempunyai hubungan kekerabatan atau berasal dari satu induk bahasa. Bahasa-bahasa dikelompokkan ke dalam keluarga bahasa atas dasar kemiripan fonologis dan morfologis. Dengan demikian dapat diperkirakan apakah bahasa-bahasa tertentu berasal dari bahasa moyang yang sama atau berasal dari bahasa proto yang sama sehingga secara genetis terdapat hubungan kekerabatan di antaranya. Bahasa-bahasa Roman, misalnya secara genetis dapat ditelusuri berasal dari bahasa Latin yang menurunkan bahasa Perancis, Spanyol, dan Italia.

Untuk mengetahui hubungan genetis di antara bahasa-bahasa dilakukan metode komparatif. Antara tahun 1820-1870 para ahli linguistik berhasil membangun hubungan sistematis di antara bahasa-bahasa Roman berdasarkan struktur fonologis dan morfologisnya. Pada tahun 1870 itu para ahli bahasa dari kelompok Junggramatiker atau Neogrammarian berhasil menemukan cara untuk mengetahui hubungan kekerabatan antarbahasa berdasarkan metode komparatif.

Beberapa rumpun bahasa yang berhasil direkonstruksikan sampai dewasa ini antara lain:

1. Rumpun Indo-Eropa: bahasa Jerman, Indo-Iran, Armenia, Baltik, Slavis, Roman, Keltik, Gaulis.

2. Rumpun Semito-Hamit: bahasa Arab, Ibrani, Etiopia.

3. Rumpun Chari-Nil; bahasa Bantu, Khoisan.

4. Rumpun Dravida: bahasa Telugu, Tamil, Kanari, Malayalam.

5. Rumpun Austronesia atau Melayu-Polinesia: bahasa Melayu, Melanesia, Polinesia.

6. Rumpun Austro-Asiatik: bahasa Mon-Khmer, Palaung, Munda, Annam.

7. Rumpun Finno-Ugris: bahasa Ungar (Magyar), Samoyid.

8. Rumpun Altai: bahasa Turki, Mongol, Manchu, Jepang, Korea.

9. Rumpun Paleo-Asiatis: bahasa-bahasa di Siberia.

10. Rumpun Sino-Tibet: bahasa Cina, Thai, Tibeto-Burma.

11. Rumpun Kaukasus: bahasa Kaukasus Utara, Kaukasus Selatan.

12. Bahasa-bahasa Indian: bahasa Eskimo, Maya Sioux, Hokan

13. Bahasa-bahasa lain seperti bahasa di Papua, Australia dan Kadai.

Ciri linguistik abad 19 sebagai berikut:

1) Penelitian bahasa dilakukan terhadap bahasa-bahasa di Eropa, baik bahasa-bahasa Roman maupun nonRoman.

2) Bidang utama penelitian adalah linguistik historis komparatif. Yang diteliti adalah hubungan kekerabatan dari bahasa-bahasa di Eropa untuk mengetahui bahasa-bahasa mana yang berasal dari induk yang sama. Dalam metode komparatif itu diteliti perubahan bunyi kata-kata dari bahasa yang dianggap sebagai induk kepada bahasa yang dianggap sebagai keturunannya. Misalnya perubahan bunyi apa yang terjadi dari kata barang, yang dalam bahasa Latin berbunyi causa menjadi chose dalam bahasa Perancis, dan cosa dalam bahasa Italia dan Spanyol.

3) Pendekatan bersifat atomistis. Unsur bahasa yang diteliti tidak dihubungkan dengan unsur lainnya, misalnya penelitian tentang kata tidak dihubungkan dengan frase atau kalimat.

 

2. 2. 2 Linguistik Abad 20

Pada abad 20 penelitian bahasa tidak ditujukan kepada bahasa-bahasa Eropa saja, tetapi juga kepada bahasa-bahasa yang ada di dunia seperti di Amerika (bahasa-bahasa Indian), Afrika (bahasa-bahasa Afrika) dan Asia (bahasa-bahasa Papua dan bahasa banyak negara di Asia). Ciri-cirinya:

1) Penelitian meluas ke bahasa-bahasa di Amerika, Afrika, dan Asia.

2) Pendekatan dalam meneliti bersifat strukturalistis, pada akhir abad 20 penelitian yang bersifat fungsionalis juga cukup menonjol.

3) Tata bahasa merupakan bagian ilmu dengan pembidangan yang semakin rumit. Secara garis besar dapat dibedakan atas mikrolinguistik, makro linguistik, dan sejarah linguistik.

4) Penelitian teoretis sangat berkembang.

5) Otonomi ilmiah makin menonjol, tetapi penelitian antardisiplin juga berkembang.

6) Prinsip dalam meneliti adalah deskripsi dan sinkronis

Keberhasilan kaum Junggramatiker merekonstruksi bahasa-bahasa proto di Eropa mempengaruhi pemikiran para ahli linguistik abad 20, antara lain Ferdinand de Saussure. Sarjana ini tidak hanya dikenal sebagai bapak linguistik modern, melainkan juga seorang tokoh gerakan strukturalisme. Dalam strukturalisme bahasa dianggap sebagai sistem yang berkaitan (system of relation). Elemen-elemennya seperti kata, bunyi saling berkaitan dan bergantung dalam membentuk sistem tersebut.

Beberapa pokok pemikiran Saussure:

(1) Bahasa lisan lebih utama dari pada bahasa tulis. Tulisan hanya merupakan sarana yang mewakili ujaran.

(2) Linguistik bersifat deskriptif, bukan preskriptif seperti pada tata bahasa tradisional. Para ahli linguistik bertugas mendeskripsikan bagaimana orang berbicara dan menulis dalam bahasanya, bukan memberi keputusan bagaimana seseorang seharusnya berbicara.

(3) Penelitian bersifat sinkronis bukan diakronis seperti pada linguistik abad 19. Walaupun bahasa berkembang dan berubah, penelitian dilakukan pada kurun waktu tertentu.

(4) Bahasa merupakan suatu sistem tanda yang bersisi dua, terdiri dari signifiant (penanda) dan signifie (petanda). Keduanya merupakan wujud yang tak terpisahkan, bila salah satu berubah, yang lain juga berubah.

(5) Bahasa formal maupun nonformal menjadi objek penelitian.

(6) Bahasa merupakan sebuah sistem relasi dan mempunyai struktur.

(7) Dibedakan antara bahasa sebagai sistem yang terdapat dalam akal budi pemakai bahasa dari suatu kelompok sosial (langue) dengan bahasa sebagai manifestasi setiap penuturnya (parole).

(8) Dibedakan antara hubungan asosiatif dan sintagmatis dalam bahasa. Hubungan asosiatif atau paradigmatis ialah hubungan antarsatuan bahasa dengan satuan lain karena ada kesamaan bentuk atau makna. Hubungan sintagmatis ialah hubungan antarsatuan pembentuk sintagma dengan mempertentangkan suatu satuan dengan satuan lain yang mengikuti atau mendahului.

Gerakan strukturalisme dari Eropa ini berpengaruh sampai ke benua Amerika. Studi bahasa di Amerika pada abad 19 dipengaruhi oleh hasil kerja akademis para ahli Eropa dengan nama deskriptivisme. Para ahli linguistik Amerika mempelajari bahasa-bahasa suku Indian secara deskriptif dengan cara menguraikan struktur bahasa. Orang Amerika banyak yang menaruh perhatian pada masalah bahasa. Thomas Jefferson, presiden Amerika yang ketiga (1801-1809), menganjurkan agar supaya para ahli linguistik Amerika mulai meneliti bahasa-bahasa orang Indian. Seorang ahli linguistik Amerika bemama William Dwight Whitney (1827-1894) menulis sejumlah buku mengenai bahasa, antara lain Language and the Study of Language (1867).

Tokoh linguistik lain yang juga ahli antropologi adalah Franz Boas (1858-1942). Sarjana ini mendapat pendidikan di Jerman, tetapi menghabiskan waktu mengajar di negaranya sendiri. Karyanya berupa buku Handbook of American Indian languages (1911-1922) ditulis bersama sejumlah koleganya. Di dalam buku tersebut terdapat uraian tentang fonetik, kategori makna dan proses gramatikal yang digunakan untuk mengungkapkan makna. Pada tahun 1917 diterbitkan jurnal ilmiah berjudul International Journal of American Linguistics.

Pengikut Boas yang berpendidikan Amerika, Edward Sapir (1884-1939), juga seorang ahli antropologi dinilai menghasilkan karya-karya yang sangat cemerlang di bidang fonologi. Bukunya, Language (1921) sebagian besar mengenai tipologi bahasa. Sumbangan Sapir yang patut dicatat adalah mengenai klasifikasi bahasa-bahasa Indian.

Pemikiran Sapir berpengaruh pada pengikutnya, L. Bloomfield (1887-1949), yang melalui kuliah dan karyanya mendominasi dunia linguistik sampai akhir hayatnya. Pada tahun 1914 Bloomfield menulis buku An Introduction to Linguistic Science. Artikelnya juga banyak diterbitkan dalam jurnal Language yang didirikan oleh Linguistic Society of America tahun 1924. Pada tahun 1933 sarjana ini menerbitkankan buku Language yang mengungkapkan pandangan behaviorismenya tentang fakta bahasa, yakni stimulus-response atau rangsangan-tanggapan. Teori ini dimanfaatkan oleh Skinner (1957) dari Universitas Harvard dalam pengajaran bahasa melalui teknik drill.

Dalam bukunya Language, Bloomfield mempunyai pendapat yang bertentangan dengan Sapir. Sapir berpendapat fonem sebagai satuan psikologis, tetapi Bloomfield berpendapat fonem merupakan satuan behavioral. Bloomfield dan pengikutnya melakukan penelitian atas dasar struktur bahasa yang diteliti, karena itu mereka disebut kaum strukturalisme dan pandangannya disebut strukturalis.

Bloomfield beserta pengikutnya menguasai percaturan linguistik selama lebih dari 20 tahun. Selama kurun waktu itu kaum Bloomfieldian berusaha menulis tata bahasa deskriptif dari bahasa-bahasa yang belum memiliki aksara. Kaum Bloomfieldian telah berjasa meletakkan dasar-dasar bagi penelitian linguistik di masa setelah itu.

Bloomfield berpendapat fonologi, morfologi dan sintaksis merupakan bidang mandiri dan tidak berhubungan. Tata bahasa lain yang memperlakukan bahasa sebagai sistem hubungan adalah tata bahasa stratifikasi yang dipelopori oleh S.M. Lamb. Tata bahasa lainnya yang memperlakukan bahasa sebagai sistem unsur adalah tata bahasa tagmemik yang dipelopori oleh K. Pike. Menurut pendekatan ini setiap gatra diisi oleh sebuah elemen. Elemen ini bersama elemen lain membentuk suatu satuan yang disebut tagmem.

Murid Sapir lainnya, Zellig Harris, mengaplikasikan metode strukturalis ke dalam analisis segmen bahasa. Sarjana ini mencoba menghubungkan struktur morfologis, sintaktis, dan wacana dengan cara yang sama dengan yang dilakukan terhadap analisis fonologis. Prosedur penelitiannya dipaparkan dalam bukunya Methods in Structural Linguistics (1951).

Ahli linguistik yang cukup produktif dalam membuat buku adalah Noam Chomsky. Sarjana inilah yang mencetuskan teori transformasi melalui bukunya Syntactic Structures (1957), yang kemudian disebut classical theory. Dalam perkembangan selanjutnya, teori transformasi dengan pokok pikiran kemampuan dan kinerja yang dicetuskannya melalui Aspects of the Theory of Syntax (1965) disebut standard theory. Karena pendekatan teori ini secara sintaktis tanpa menyinggung makna (semantik), teori ini disebut juga sintaksis generatif (generative syntax). Pada tahun 1968 sarjana ini mencetuskan teori extended standard theory. Selanjutnya pada tahun 1970, Chomsky menulis buku generative semantics; tahun 1980 government and binding theory; dan tahun 1993 Minimalist program.

 

III. Paradigma

Kata paradigma diperkenalkan oleh Thomas Khun pada sekitar abad 15. Paradigma adalah prestasi ilmiah yang diakui pada suatu masa sebagai model untuk memecahkan masalah ilmiah dalam kalangan tertentu. Paradigma dapat dikatakan sebagai norma ilmiah. Contoh paradigma yang mulai tumbuh sejak zaman Yunani tetapi pengaruhnya tetap terasa sampai zaman modern ini adalah paradigma Plato dan paradigma Aristoteles. Paradigma Plato berintikan pendapat Plato bahwa bahasa adalah physei atau mirip dengan realitas, disebut juga non-arbitrer atau ikonis. Paradigma Aristoteles berintikan bahwa bahasa adalah thesei atau tidak mirip dengan realitas, kecuali onomatope, disebut arbitrer atau non-ikonis. Kedua paradigma ini saling bertentangan, tetapi dipakai oleh peneliti dalam memecahkan masalah bahasa, misalnya tentang hakikat tanda bahasa.

Pada masa tertentu paradigma Plato banyak digunakan ahli bahasa untuk memecahkan masalah linguistik. Penganut paradigma Plato ini disebut kaum naturalis. Mereka menolak gagasan kearbitreran. Pada masa tertentu lainnya paradigma Aristoteles digunakan mengatasi masalah linguistik. Penganut paradigma Aristoteles disebut kaum konvensionalis. Mereka menerima adanya kearbiteran antara bahasa dengan realitas.

Pertentangan antara kedua paradigma ini terus berlangsung sampai abad 20. Di bidang linguistik dan semiotika dikenal tokoh Ferdinand de Saussure sebagai penganut paradigma .Aristoteles dan Charles S. Peirce sebagai penganut paradigma Plato. Mulai dari awal abad 19 sampai tahun 1960-an paradigma Aristoteles yang diikuti Saussure yang berpendapat bahwa bahasa adalah sistem tanda yang arbitrer digunakan dalam memecahkan masalah-masalah linguistik. Tercatat beberapa nama ahli linguistik seperti Bloomfield dan Chomsky yang dalam pemikirannya menunjukkan pengaruh Saussure dan paradigma Aristoteles. Menjelang pertengahan tahun 60-an dominasi paradigma Aristoteles mulai digoyahkan oleh paradigma Plato melalui artikel R. Jakobson "Quest for the Essence of Language" (1967) yang diilhami oleh Peirce. Beberapa nama ahli linguistik seperti T. Givon, J. Haiman, dan W. Croft tercatat sebagai penganut paradigma Plato.

 

IV. Cakupan dan Kemaknawian Ilmu Bahasa

Secara umum, bidang ilmu bahasa dibedakan atas linguistik murni dan linguistik terapan. Bidang linguistik murni mencakup fonetik, fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Sedangkan bidang linguistik terapan mencakup pengajaran bahasa, penerjemahan, leksikografi, dan lain-lain. Beberapa bidang tersebut dijelaskan dalam sub-bab berikut ini.

4. 1 Fonetik

Fonetik mengacu pada artikulasi bunyi bahasa. Para ahli fonetik telah berhasil menentukan cara artikulasi dari berbagai bunyi bahasa dan membuat abjad fonetik internasional sehingga memudahkan seseorang untuk mempelajari dan mengucapkan bunyi yang tidak ada dalam bahasa ibunya. Misalnya dalam bahasa Inggris ada perbedaan yang nyata antara bunyi tin dan thin, dan antara they dan day, sedangkan dalam bahasa Indonesia tidak. Dengan mempelajari fonetik, orang Indonesia akan dapat mengucapkan kedua bunyi tersebut dengan tepat.

Abjad fonetik internasional, yang didukung oleh laboratorium fonetik, departemen linguistik, UCLA, penting dipelajari oleh semua pemimpin, khususnya pemimpin negara. Dengan kemampuan membaca abjad fonetik secara tepat, seseorang dapat memberikan pidato dalam ratusan bahasa. Misalnya, jika seorang pemimpin di Indonesia mengadakan kunjungan ke Cina, ia cukup meminta staf-nya untuk menerjemahkan pidatonya ke bahasa Cina dan menulisnya dengan abjad fonetik, sehingga ia dapat memberikan pidato dalam bahasa Cina dengan ucapan yang tepat. Salah seorang pemimpin yang telah memanfaatkan abjad fonetik internasional adalah Paus Yohanes Paulus II. Ke negara manapun beliau berkunjung, beliau selalu memberikan khotbah dengan menggunakan bahasa setempat. Apakah hal tersebut berarti bahwa beliau memahami semua bahasa di dunia? Belum tentu, namun cukup belajar fonetik saja untuk mampu mengucapkan bunyi ratusan bahasa dengan tepat.

 

4. 2 Fonologi

Fonologi mengacu pada sistem bunyi bahasa. Misalnya dalam bahasa Inggris, ada gugus konsonan yang secara alami sulit diucapkan oleh penutur asli bahasa Inggris karena tidak sesuai dengan sistem fonologis bahasa Inggris, namun gugus konsonan tersebut mungkin dapat dengan mudah diucapkan oleh penutur asli bahasa lain yang sistem fonologisnya terdapat gugus konsonan tersebut. Contoh sederhana adalah pengucapan gugus ‘ng’ pada awal kata, hanya berterima dalam sistem fonologis bahasa Indonesia, namun tidak berterima dalam sistem fonologis bahasa Inggris. Kemaknawian utama dari pengetahuan akan sistem fonologi ini adalah dalam pemberian nama untuk suatu produk, khususnya yang akan dipasarkan di dunia internasional. Nama produk tersebut tentunya akan lebih baik jika disesuaikan dengan sistem fonologis bahasa Inggris, sebagai bahasa internasional.

 

4. 3 Morfologi

Morfologi lebih banyak mengacu pada analisis unsur-unsur pembentuk kata. Sebagai perbandingan sederhana, seorang ahli farmasi (atau kimia?) perlu memahami zat apa yang dapat bercampur dengan suatu zat tertentu untuk menghasilkan obat flu yang efektif; sama halnya seorang ahli linguistik bahasa Inggris perlu memahami imbuhan apa yang dapat direkatkan dengan suatu kata tertentu untuk menghasilkan kata yang benar. Misalnya akhiran -¬en dapat direkatkan dengan kata sifat dark untuk membentuk kata kerja darken, namun akhiran -¬en tidak dapat direkatkan dengan kata sifat green untuk membentuk kata kerja. Alasannya tentu hanya dapat dijelaskan oleh ahli bahasa, sedangkan pengguna bahasa boleh saja langsung menggunakan kata tersebut. Sama halnya, alasan ketentuan pencampuran zat-zat kimia hanya diketahui oleh ahli farmasi, sedangkan pengguna obat boleh saja langsung menggunakan obat flu tersebut, tanpa harus mengetahui proses pembuatannya.

 

4. 4 Sintaksis

Analisis sintaksis mengacu pada analisis frasa dan kalimat. Salah satu kemaknawiannya adalah perannya dalam perumusan peraturan perundang-undangan. Beberapa teori analisis sintaksis dapat menunjukkan apakah suatu kalimat atau frasa dalam suatu peraturan perundang-undangan bersifat ambigu (bermakna ganda) atau tidak. Jika bermakna ganda, tentunya perlu ada penyesuaian tertentu sehingga peraturan perundang-undangan tersebut tidak disalahartikan baik secara sengaja maupun tidak sengaja.

 

4. 5 Semantik

Kajian semantik membahas mengenai makna bahasa. Analisis makna dalam hal ini mulai dari suku kata sampai kalimat. Analisis semantik mampu menunjukkan bahwa dalam bahasa Inggris, setiap kata yang memiliki suku kata ‘pl’ memiliki arti sesuatu yang datar sehingga tidak cocok untuk nama produk/benda yang cekung. Ahli semantik juga dapat membuktikan suku kata apa yang cenderung memiliki makna yang negatif, sehingga suku kata tersebut seharusnya tidak digunakan sebagai nama produk asuransi. Sama halnya dengan seorang dokter yang mengetahui antibiotik apa saja yang sesuai untuk seorang pasien dan mana yang tidak sesuai.

4. 6 Pengajaran Bahasa

Ahli bahasa adalah guru dan/atau pelatih bagi para guru bahasa. Ahli bahasa dapat menentukan secara ilmiah kata-kata apa saja yang perlu diajarkan bagi pelajar bahasa tingkat dasar. Para pelajar hanya langsung mempelajari kata-kata tersebut tanpa harus mengetahui bagaimana kata-kata tersebut disusun. Misalnya kata-kata dalam buku-buku Basic English. Para pelajar (dan guru bahasa Inggris dasar) tidak harus mengetahui bahwa yang dimaksud Basic adalah B(ritish), A(merican), S(cientific), I(nternational), C(ommercial), yang pada awalnya diolah pada tahun 1930an oleh ahli linguistik C. K. Ogden. Pada masa awal tersebut, Basic English terdiri atas 850 kata utama.

Selanjutnya, pada tahun 1953, Michael West menyusun General Service List yang berisikan dua kelompok kata utama (masing-masing terdiri atas 1000 kata) yang diperlukan oleh pelajar untuk dapat berbicara dalam bahasa Inggris. Daftar tersebut terus dikembangkan oleh berbagai universitas ternama yang memiliki jurusan linguistik. Pada tahun 1998, Coxhead dari Victoria University or Wellington, berhasil menyelesaikan suatu proyek kosakata akademik yang dilakukan di semua fakultas di universitas tersebut dan menghasilkan Academic Wordlist, yaitu daftar kata-kata yang wajib diketahui oleh mahasiswa dalam membaca buku teks berbahasa Inggris, menulis laporan dalam bahasa Inggris, dan tujuannya lainnya yang bersifat akademik.

Proses penelitian hingga menjadi materi pelajaran atau buku bahasa Inggris yang bermanfaat hanya diketahui oleh ahli bahasa yang terkait, sedangkan pelajar bahasa dapat langung mempelajari dan memperoleh manfaatnya. Sama halnya dalam ilmu kedokteran, proses penelitian hingga menjadi obat yang bermanfaat hanya diketahui oleh dokter, sedangkan pasien dapat langsung menggunakannya dan memperoleh manfaatnya.

 

4. 7 Leksikografi

Leksikografi adalah bidang ilmu bahasa yang mengkaji cara pembuatan kamus. Sebagian besar (atau bahkan semua) sarjana memiliki kamus, namun mereka belum tentu tahu bahwa penulisan kamus yang baik harus melalui berbagai proses.

Dua nama besar yang mengawali penyusunan kamus adalah Samuel Johnson (1709-1784) dan Noah Webster (1758-1843). Johnson, ahli bahasa dari Inggris, membuat Dictionary of the English Language pada tahun 1755, yang terdiri atas dua volume. Di Amerika, Webster pertama kali membuat kamus An American Dictionary of the English Language pada tahun 1828, yang juga terdiri atas dua volume. Selanjutnya, pada tahun 1884 diterbitkan Oxford English Dictionary yang terdiri atas 12 volume.

Saat ini, kamus umum yang cukup luas digunakan adalah Oxford Advanced Learner’s Dictionary. Mengapa kamus Oxford? Beberapa orang mungkin secara sederhana akan menjawab karena kamus tersebut lengkap dan cukup mudah dimengerti. Tidak banyak yang tahu bahwa (setelah tahun 1995) kamus tersebut ditulis berdasarkan hasil analisis British National Corpus yang melibatkan cukup banyak ahli bahasa dan menghabiskan dana universitas dan dana negara yang jumlahnya cukup besar. Secara umum, definisi yang diberikan dalam kamus tersebut seharusnya dapat mudah dipahami oleh pelajar karena semua entri dalam kamus tersebut hanya didefinisikan oleh sekelompok kosa kata inti. Bagaimana kosa-kata inti tersebut disusun? Tentu hanya ahli bahasa yang dapat menjelaskannya, sedangkan para sarjana dan pelajar dapat langsung saja menikmati dan menggunakan berbagai kamus Oxford yang ada dipasaran.

 

V. Penutup

Penelitian bahasa sudah dimulai sejak abad ke 6 SM, bahkan perpustakaan besar yang menjadi pusat penelitian bahasa dan kesusastraan sudah dibangun sejak awal abad 3 SM di kota Alexandria. Kamus bahasa Inggris, Dictionary of the English Language, yang terdiri atas dua volume, pertama kali diterbitkan pada tahun 1755; dan pada tahun 1884 telah diterbitkan Oxford English Dictionary yang terdiri atas 12 volume. Antara 1820-1870 para ahli linguistik berhasil membangun hubungan sistematis di antara bahasa-bahasa Roman berdasarkan struktur fonologis dan morfologisnya.

Salah satu buku awal yang menjelaskan mengenai ilmu bahasa adalah buku An Introduction to Linguistic Science yang ditulis oleh Bloomfield pada tahun 1914. Jurnal ilmiah internasional ilmu bahasa, yang berjudul International Journal of American Linguistics, pertama kali diterbitkan pada tahun 1917.

Ilmu bahasa terus berkembang dan semakin memainkan peran penting dalam dunia ilmu pengetahuan. Hal ini dibuktikan dengan semakin majunya program pascasarjana bidang linguistik di berbagai universitas terkemuka (UCLA, MIT, Oxford, dll). Buku-buku karya ahli bahasa pun semakin mendapat perhatian. Salah satu buktinya adalah buku The Comprehensive Grammar of the English Langauge, yang terdiri atas 1778 halaman, yang acara peluncurannya di buka oleh Margareth Thatcher, pada tahun 1985. Respon yang luar biasa terhadap buku tersebut membuatnya dicetak sebanyak tiga kali dalam tahun yang sama. Buku tata bahasa yang terbaru, The Cambridge Grammar of the English Language, tahun 2002, yang terdiri atas 1842 halaman, ditulis oleh para ahli bahasa yang tergabung dalam tim peneliti internasional dari lima negara.

 

 

Pustaka Acuan

Robins, R.H. 1990. A Short History of Linguistics. London: Longman.

Fromkin, Victoria & Robert Rodman. 1998. An Introduction to Language (6th Edition). Orlando: Harcourt Brace College Publishers.

Hornby, A.S. 1995. Oxford Advanced Learner’s Dictionary (5th edition). Oxford: Oxford University Press.

Matthews, Peter. 1997. The Concise Oxford Dictionary of Linguistics. Oxford: Oxford University Press

NGUNINGIN WASTAN TIOS ANGGA SARIRA

SIRAH  BASA ALUSNYANE           = DUUR, PRABUSA

USEHAN                                       = USER

LENGAR                                       = SULAH

UBAN                                            = DAWALYA

KUTU                                            = PEPETAN

KEBUN                                         = KEPUR

PABAN                                         = SIWA DWARA

MUA                                             = PRERAI

SRINATA/SEMI                             = PETITIS

GIDAT                                          = RAI,LELATA

ALIS                                             = RARIK, SIRATMAYA, WIMBA

PEPELENGAN                             =  PEPILIS

MATA, PANINGALAN                    = PENYINGAKAN, PANGAKSIAN, PANYURYANAN,

BULUN MATA                               = RINGRING

YEH MATA                                   = TOYAN  PANON

PECEH                                        = PAPELIS

PIPI                                             = PENGARASAN

CUNGUH                                     = IRUNG, UNGASAN

TENGES                                     = ELED

BUNGUT                                     = CANGKEM, MOMON

BIBIH                                          = LAMBE

ISIT                                             = LATI

GIGI                                            = UNTU

CALING                                      = SIUNG

PANGGAL                                  =  BEHER

PAOS                                         = BELES, WIDUH

LAYAH                                        =ILAT, LIDAH

GENYIN GIGI                               = SII

JAGUT                                         = LELENTEK

KUMIS                                         = CERAWIS

JENGGOT                                    = RAWE

KALES                                         = BERIS

DAKIN KUPING                             = TILU, KILU

ANGKIHAN                                   = ANGSENGAN

GETIH                                           = RAH

TULANG                                       = GALIH

ISI                                                = DAGING

KULIT                                           = CARMA

DAKI                                            = OMEL

UAT                                              = URAT, OTOT

AWAK                                          = ANGGA

BAONG                                        = KANTA

PALA                                           = BAHU

TUNDUN                                      = GIGIR

TANGKAH                                    = WAKSA, GIGIR

NYONYO                                      = CECEPAN, SUSU, PAYUDARA

SIPAH                                           = PASANGKLEPAN, CAKEPAN APITAN, PANYANGGLAKAN

ULUN ATI                                      = ULUN ANGEN

BASANG                                       = WADUK

PUNGSED                                    = PUSER, UDEL

PLIYOK                                         = LAMBUNG

BANGKIANG                                 = MADIA

BOKONGAN                                  = WANGKONG

JIT                                                 = SILIT

SISIKAN                                        = UYUH-UYUH

PIKANG                                         = PIAH

LIMA                                             = TANGAN

LENGEN                                        = LUNGAYAN

SIKU                                              = LENTUK, KONA

PAGELANGAN                               = PAPINGGEL

TELAPAKAN LIMA                         = TAPAK TANGAN, KANA TANGAN

JRIJI                                              = GULI, PURNAWA

KUKU                                            = NAKA

ENCEH                                         = WARIH, BANYU

TAI                                                = BACIN, KORATAN

BATIS, BUNTUT                             = COKOR

PAA                                              = PUPU

ENTUD                                           = JEJENGKU, LENTUR

BETEKAN BATIS                            = LANGSANG

BULU                                             = RAMBUT

TELAPAK BATIS                             =TAPAK COKOR

ENTUT                                           = AMBRU

NYALI                                            = AMPRU


Sumber-anggah-ungguhing basa Bali